Monday, October 6, 2008

Bayangkara 2008, Riwayatmu dan Aku

Gw baru aja mantengin layar komputer nonton DVD-nya Bayangkara 2008. Sedetik setelah itu rasa kangen gw kepada kawan-kawan seperjuangan dua tahun di era putih abu-abu itu membuncah. Rasanya seperti petasan rentet yang baru disundut api, gampangnya rasanya bagaikan segentong minyak tanah yang nggak sengaja kemasukan korek api nyala, intinya membara lah. Sindrom yang terjadi dua detik setelahnya adalah ketawa ngakak nggak berhenti pas inget tingkah konyolnya anak-anak yang kelamaan netap di asrama. Tiga detik setelahnya, luapan bangga dan bahagia karena gw pernah tergabung didalamnya, berenang dalam lautan keluarga yang Masa Oloh heboh, fantastik.

Empat detik selepas itu, gw sekarang lagi nulis, menumpahkan kerinduan gw kepada sahabat-sahabat lama itu. Lima detik sekarang, gw lagi bingung kata dan kalimat tepat apa yang patut menggambarkan hingar-bingarnya angkatan genap pertama ini. Ramenya Pasar Tanah Abang pas lagi mau lebaran atau Glodok pas datengnya Lebaran Cina masih bisa gw ceritakan dengan lugas dan jelas namun untuk hebohnya Bayangkara mungkin “nggak ada matinye” kali ya. Makanya gw nggak bingung ketika gw buka Friendster, maenan anak Presiden ketika Facebook belum heboh, di masing-masing Profil Bayangkara selalu nampilin anak-anak angkatan dua sebagai featured friendsnya, menggambarkan tokoh-tokoh Bayangkara di Who I Want to Meetnya dan commentnya pun dari bocah-bocah angkatan mereka juga. Tidak ketinggalan beberapa malah shout-outin kalau mereka kangen satu sama lainnya. Because it is surely from the deepest side of my heart that I wanna shout, I really do too. Masuk enam detik sekarang, gw benar-benar speechless, gw kangen mereka, cuy.

Tujuh sampai delapan detik gw berani menyimpulkan jika gw beruntung bahwa garis hidup gw pernah mengalami titik potong dengan garis hidup para tokoh Bayangkara 2008 walaupun pada akhirnya kita pahami setiap garis lurus yang berpotongan akan terus melaju lurus mengambil jalannya masing-masing. Satu yang menjanjikan, tidak adanya pemungkiran bahwa adanya bekas perpotongan yang tidak akan pernah terhapus. Sembilan detik gw tarik napas dalam-dalam dalam balutan rasa senang. Sepuluh detik kemudian gw menyadari kalau sepuluh detik setelah terlarut dalam kenangan Bayangkara ini bakal menjadi sepuluh detik yang indah di hati gw.


*ditulis oleh seseorang yang ketinggalan, meninggalkan, ditinggalkan angkatan ini

No comments: