CORETAN DAN PENSIL : Rangkuman mimpi kecil anak kelas tiga SMA yang jarang mencatat di kelas, minim kosakata, kurang peka merangkai kalimat, datar dalam melontar bahasa, namun bercita-cita menjadi penulis. Hasil terakhir yang tergolong (kurang) bisa dibanggakan: Buku hariannya yang terisi dua lembar saja dan kosong kebelakangnya.
Sunday, June 22, 2008
Ayunan Pertama
Tidak ada definisi secara bahasa yang menjelaskan mengapa blog pertama ini dinamakan Coretan dan Pensil. Nama itu terlontar tanpa rem, terhantar tanpa hambatan. Berlari kencang lalu jatuh menubruk, membengkok pemikiran, dan mengancam untuk menjadikannya sebuah judul. Ajaib.
Monday, June 16, 2008
Embahku*
Embah, begitu aku panggil kakekku dari garis ibu, ialah seorang pensiunan polisi. Namanya Ahmad Mukti, dua buah kata tunggal yang membentuk sebuah nama seorang ayah dari seorang perempuan yang melahirkan aku. Ahmad, setelah aku telusuri di mesin pencari yang aku temukan, berakar dari bahasa Arab yang bersensasi orang senantiasa dekat dengan Tuhan. Mukti, yang terdengar sangat janggal sesudah dilafalkan beberapa kali olehku, berartikan liberal atau bebas di dalam filosofi Hindu. Nama yang antik, perpaduan dua budaya yang terlebur menjadikan lelaki gagah yang masih semangat mengayuh sepeda ke Balai Desa di usia senjanya. "Mau ada rapat mesjid Balai Desa, Mbak Tata. Nggak usah ikut, di rumah saja", serunya ketika aku merengek minta dibonceng sepeda kumbang sepupuku yang beliau pinjam. Aku diam dan duduk menunggu embah di kursi kayu yang dicat biru sekenanya depan rumah. Sesekali melongok ke jalan mencari munculnya kopiah hitam pudar Embah dengan sepeda hitam yang tidak pernah lupa beliau mandikan setiap sore setelah salat Ashar. Embahku ini sangat istimewa. Cerminan dari nama beliau yang spesial pula. Aku masih tidur nyenyak di kasur kapuk bersarung batik, ketika embah yang tidur tepat disebelahku berhenti mendengkur dan beranjak menimba air wudhlu untuk anak dan cucu-cucunya. Aku cucu pertama dari anak perempuan pertamanya, seseorang yang pertama ditepuk, dibangunkan, "Mbak Tata, subuh, mbak. Mau jamaah nggak di mushola? ". Masih jam empat dua puluh lima saat itu. Terlalu subuh, lima menit lagi ya, Mbah. Embahku unik, tidak akan pernah ditemukan dimanapun juga, beliau adalah seseorang yang selalu menyapa tukang becak, abang sayur keliling, mas koran, ibu jualan serabi, bahkan sekumpulan pemuda karang taruna yang tidak dikenalnya sekalipun. "Siapa sih, Mbah?", tanyaku selepas Embah berteriak salam kepada lelaki kumisan gendut yang lewat depan rumah. "Kurang tahu, Mbak Tata", katanya. Embah..
Embah sangat sayang cucu-cucunya yang sekarang ada tujuh. Keenamnya ialah sepupuku. Cuma satu laki-laki, selebihnya perempuan. Sudah banyak kasih sayang dan doa yang tercurah buatku. Sudah terlalu banyak uang kembalian rokok warung sebelah yang Embah relakan masuk ke kantongku. Sudah banyak waktunya yang beliau sisihkan untuk mengajariku naik sepeda, menarik layangan. Sangat luas sabarnya, seluas sawah sebelah lapangan SD negeri satu-satunya di kompleks desa.Embahku, embah nomor satu. Karena beliau adalah Embahku yang bernama Ahmad Mukti, pensiunan polisi.
* ditulis pada suatu sore ketika neuron otak memutar gambar Embah dan merangsang untuk merindunya.
Subscribe to:
Comments (Atom)